Gudangnya Info Lowongan Kerja

Bagaimana cara mengubah emotional buying menjadi investasi

In Lowongan 2010 on December 24, 2010 at 2:03 am

Anda senang membeli barang-barangbranded, yang membuat Anda harus berutang kartu kredit berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun? Kini Anda tak perlu khawatir bahwa kesukaan Anda terhadap barang-barang bermerek ini dibilang hanya mengejar gengsi. Bila cermat, Anda bisa mengubah emotional buying ini menjadi smart buying. Bagaimana caranya?
Samuel Mulia, pengamat mode, mengaku pernah terjebak dengan utang kartu kredit ini karena kesukaannya akan barang-barang branded. Ia tersadar bahwa kebiasaan ini sangat tidak bertanggung jawab, apalagi karena kemudian ia kesulitan membayar utang-utangnya. Saat sedang apes-apesnya, mendadak sebuah koper branded yang dibelinya pada tahun 1998 seharga sekitar Rp 6 juta ditawar dengan harga Rp 15 juta oleh temannya.

Kejadian itu membuat matanya terbuka. Ternyata, kecintaannya pada fashion bisa membuatnya bisa berinvestasi di bidang itu. Samuel lalu “berkenalan” dengan konsep investasi spekulatif dan nonspekulatif. Investasi nonspekulatif adalah jenis konvensional, seperti tabungan, asuransi, dan deposito. Sedangkan yang dimaksud spekulatif adalah menjadikan koleksi jam tangan, lukisan, berlian, bahkan batik sebagai investasi.
Investasi ini disebut spekulatif, “Karena nilainya tidak bisa dihitung. Ada unsur emosional di situ, tapi bisa mendatangkan uang,” ujar Samuel dalam bincang-bincang menjelang peluncuran koleksi terbaru Batik Danar Hadi di Jakarta, Rabu (30/6/2010).
Ia memberi contoh, seseorang mungkin memiliki selembar kain batik dengan harga Rp 5 juta. Tetapi ketika barang yang sama dimiliki oleh mantan Presiden RI Soekarno, harganya mungkin bisa naik berkali-kali lipat.
Ia juga menyarankan agar kita pintar-pintar memilih barang yang akan diinvestasikan. “Sebab, tidak semua barang mempunyai nilai return yang tinggi,” kata Samuel, yang menolak disebut sebagai pakar finansial.
Syarat investasi nonspekulatif
Untuk menjadikan koleksi barang berharga—sebut saja batik—sebagai investasi, menurut Samuel, ada sejumlah syarat yang harus Anda penuhi.
* Sebelum berinvestasi spekulatif, Anda harus didukung dengan dana nonspekulatif yang sudah mantap. Sebab, bila investasi ini tidak berkembang, Anda masih memiliki dana nonspekulatif yang bisa menjamin kelangsungan hidup Anda.
* Networking harus kuat. Menjual kembali barang-barang yang dikoleksi tidak semudah investasi emas, misalnya, yang bisa dijual di toko emas. “Transaksi barang-barang branded itu community driven,” ujar pria yang juga kolumnis di rubrik Parodi harian Kompas ini. “Kita hanya bisa menjualnya antarteman, entah melalui teman-teman sendiri atau kelompok penggemarnya.”
* Anda harus melakukan perawatan ekstra untuk barang koleksi Anda. Jika Anda menginvestasikan lukisan atau berlian, tentu Anda tidak bisa sembarangan menyimpannya. Tas branded harus disimpan di dalam flanel bag. Sepatu disumpal dengan shoe tree untuk menjaga bentuknya. Bahkan, bon pembelian sebaiknya tidak dibuang.
Batik pun harus dipelihara dengan cara khusus. Bagaimana cara melipatnya, cara mencucinya dengan lerak, atau menjemurnya dengan cara diangin-angin. Lebih dari itu, kata Samuel, Anda harus tahu bagaimana sejarah batik tersebut sampai ke tangan Anda. Apa motif dan filosofinya, tahun pembuatannya, atau siapa saja pemilik sebelumnya. Informasi yang lengkap inilah yang menjadikan nilai emosionalnya menjadi begitu tinggi. Siapa tahu koleksi batik Anda kelak bisa dilelang di balai lelang kelas dunia seperti Sotheby’s atau Christie’s, kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: